Di banyak galeri seni, pengunjung kerap menemukan tanda titik merah kecil yang ditempelkan di dekat label karya. Tanda ini bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol yang telah menjadi bahasa visual universal dalam dunia pameran seni. Titik merah umumnya menandakan bahwa sebuah karya telah terjual kepada kolektor, tetapi tetap dipajang hingga pameran berakhir. Praktik ini mulai populer sejak pertengahan abad ke-20 dan kemudian diadopsi secara luas oleh galeri-galeri seni di berbagai negara. Keberadaannya membantu galeri mengelola penjualan tanpa harus menarik karya dari ruang pamer, sehingga pengalaman visual pengunjung tetap utuh.
(1) Dokumentasi Foto Pameran di 2Madison Gallery, (2) Dokumentasi Foto oleh John Waters. Courtesy of the artist and Sprüth Magers.
Selain fungsi administratif, penggunaan titik merah memiliki dampak psikologis yang kuat. Warna merah dipilih karena mencolok dan mudah menarik perhatian, sekaligus memberi kesan urgensi. Ketika pengunjung melihat karya yang telah diberi titik merah, secara tidak langsung muncul persepsi bahwa karya tersebut diminati dan memiliki nilai lebih. Hal ini sering mendorong calon pembeli untuk lebih serius mempertimbangkan karya lain yang belum terjual. Dalam konteks ini, titik merah berperan sebagai alat komunikasi sekaligus strategi pemasaran yang halus namun efektif, tanpa perlu promosi verbal yang berlebihan.
(1) Dokumentasi Foto di Pameran 2Madison Gallery, (2) Dokumentasi Foto via GreyArt Magazine
Bagi seniman, titik merah juga memiliki makna simbolis sebagai penanda pencapaian dan pengakuan. Karya yang terjual menunjukkan adanya apresiasi dari kolektor dan dapat meningkatkan reputasi seniman di mata publik maupun pasar seni. Meski demikian, tidak semua galeri menggunakan tanda ini. Beberapa galeri kelas atas memilih menghindarinya karena dianggap terlalu menonjolkan aspek komersial. Namun secara umum, titik merah tetap bertahan sebagai simbol sederhana yang merepresentasikan pertemuan antara estetika, nilai ekonomi, dan dinamika sosial dalam dunia seni rupa kontemporer.
Ditulis oleh Noverdy R
Referensi:
- GreatArt Magazine. (2022). Why Art Galleries Use Red Dots.
https://magazine.greatart.co.uk/2022/05/12/why-art-galleries-use-red-dots/ - The Art League. (2015). Why Do Galleries Use Red Dots?
https://www.theartleague.org/blog/2015/02/04/why-do-galleries-use-red-dots/

