Apa yang Dilihat, Apa yang Dirasakan: Memahami Seni Lewat Perasaan Dulu, Logika Belakangan

8 Mei 2025
Apa yang Dilihat, Apa yang Dirasakan: Memahami Seni Lewat Perasaan Dulu, Logika Belakangan
Diterbitkan pada  Diperbarui pada  

Saat pertama kali masuk ke ruang pameran seni, banyak orang terutama yang baru mulai tertarik langsung merasa “harus paham” makna di balik karya-karya yang dipajang. Rasanya seperti ujian yang mana harus menebak maksud seniman, harus mengerti simbol-simbolnya, harus punya “jawaban yang benar”. Padahal tidak harus segitunya, kok.

Seni bukan soal tebak-tebakan atau adu pintar. Kadang, seni cuma pengingat bahwa kita ini manusia yang bisa merasa, bisa terdiam, bisa senyum sendiri, atau bahkan bisa sedih tanpa tahu kenapa. Dan justru dari situ, pengalaman menikmati seni bisa dimulai.

Sumber: Pameran Illuminated 2025, 2Madison Art Gallery

Rasakan Dulu, Jangan Langsung Mikir

Saat melihat sebuah lukisan atau instalasi, tanya ke diri sendiri: “Apa yang aku rasakan?”
Tenang saja, jawabannya tidak harus rumit. Bisa saja sesederhana: “Sepertinya suasananya sepi banget ya.” atau “Aku merasa terhimpit waktu lihat ini.” Itu valid. Rasa pertama yang muncul itu penting, karena itu reaksi jujur kita terhadap karya itu.

Setiap Orang Punya Tafsir Masing-Masing

Satu karya bisa membuaat orang A merasa tenang, tapi orang B justru merasa gelisah. Dan tidak ada yang salah. Seniman mungkin punya maksud tertentu, tapi bukan berarti perasaan penikmat tidak sah. Bahkan banyak seniman yang justru ingin karyanya ditafsirkan bebas, sesuai pengalaman masing-masing orang.

Logika Boleh Menyusul

Setelah perasaanmu “mendarat”, barulah boleh main logika. Baca deskripsi karyanya. Cari tahu tentang teknik, sejarah, atau konteks sosialnya. Tapi ingat, informasi ini datang sebagai pelengkap, bukan patokan utama. Kadang justru, makin banyak tahu, makin dalam rasa yang kita alami.

Sumber: Pameran Illuminated 2025, 2Madison Art Gallery

Jadi, Nikmati Dulu Saja

Next time kamu datang ke pameran, coba nikmati tanpa beban. Tidak usah terburu-buru mencari “makna”. Duduk, lihat, rasakan. Biarkan dirimu tenggelam dalam pengalaman visual dan emosionalnya. Karena di balik warna, garis, dan bentuk itu, seni sedang bicara ke perasaanmu, bukan ke otakmu duluan.

 

Written by Noverdy R

Diterbitkan pada  Diperbarui pada