Bagi masyarakat Betawi, membangun rumah merupakan tahap penting dalam kehidupan keluarga baru. Pasangan yang menikah biasanya tinggal bersama keluarga besar hingga mampu membangun rumah sendiri. Proses pembangunan tidak sembarangan, melibatkan pertimbangan ekonomi, bahan bangunan, kondisi lahan, hingga kepercayaan spiritual. Tokoh agama kerap dimintai bantuan untuk menentukan arah rumah, waktu pembangunan, dan kesesuaian lahan. Ada pula pantangan adat, seperti larangan membangun di tanah keramat atau sisi kiri rumah orang tua, yang diyakini dapat memengaruhi kesehatan dan rezeki penghuni.
(1) Dokumentasi Foto Rumah Betawi Si Pitung oleh Olobaho, CC BY-SA 4.0, (2) Dokumentasi Foto Rumah Ornamen Betawi oleh By Olobaho, CC BY-SA 4.0
Pemilihan material juga sarat makna simbolis. Kayu nangka, cempaka, dan asem memiliki aturan khusus misalnya kayu nangka tidak untuk kusen bawah pintu, cempaka membawa keharmonisan, dan asem dihindari karena dipercaya merusak hubungan sosial. Kayu diawetkan secara tradisional melalui perendaman di air mengalir atau lumpur agar tahan lama. Berbagai ritual juga dilakukan, seperti peletakan garam, uang logam di umpak batu, pengikatan hasil bumi, dan pengibaran bendera sebagai simbol keselamatan dan kesejahteraan.
(1) Dokumentasi Foto Rumah Adat Betawi oleh Indonesiagood, CC BY 4.0, (2) Dokumentasi Foto Rumah Adat Betawi oleh Tania Shab'hatiani, CC BY-SA 4.0
Tahap awal pembangunan dimulai dengan upacara andilan, yaitu musyawarah keluarga untuk menentukan jenis rumah dan pembagian bantuan. Sanak saudara bergotong royong memberikan tenaga, dana, atau bahan bangunan, diikuti doa bersama dan tahlilan. Tradisi sambatan dari masyarakat sekitar, seperti meratakan tanah dan menyiapkan baturan, menunjukkan nilai kebersamaan yang kuat.
(1) Dokumentasi Foto Rumah Si Pitung oleh Olobaho, CC BY-SA 4.0, (2) Dokumentasi Foto Rumah Adat Betawi oleh Rantemario, CC BY-SA 4.0
Secara arsitektural, rumah Betawi memiliki struktur rangka kayu dengan pembagian ruang seragam yaitu teras depan, ruang dalam, dapur di belakang, dan kamar mandi terpisah. Material berasal dari alam sekitar, seperti kayu, bambu, dan genteng tanah liat, meski kini mulai dimodernisasi. Rumah juga memiliki fungsi sosial, misalnya teras luas dan dinding depan yang bisa dibongkar untuk hajatan. Berdasarkan bentuk atapnya, rumah Betawi terbagi menjadi tiga tipe utama: Rumah Gudang, Rumah Joglo, dan Rumah Bapang (Kebaya), masing-masing dengan karakter struktur dan denah tersendiri.
Ditulis oleh Noverdy R
Referensi:
- Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
- Data Pokok Kebudayaan (Kementrian Kebudayaan)

