Galeri Salihara Jakarta menghadirkan sebuah pameran seni rupa yang menyoroti perjalanan panjang abstraksi dalam seni Indonesia melalui tajuk “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme”. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Salihara Arts dan Artsociates, dengan Asikin Hasan sebagai kurator. Menghadirkan lebih dari 80 karya seni yang diciptakan dalam rentang waktu panjang, mulai dari dekade 1950-an hingga 2025, pameran ini menawarkan pembacaan mendalam terhadap perkembangan pendekatan formalisme dalam seni lukis dan patung di Indonesia.

Dokumentasi Foto Pameran "Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme" di Galeri Salihara oleh Tim SpaceJakarta
Sejumlah nama penting dalam sejarah seni rupa Indonesia turut dihadirkan, antara lain A.D. Pirous, Aming Prayitno, Amrizal Salayan, Endang Lestari, Fadjar Sidik, G. Sidharta, Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Henryette Louise, Kaboel Suadi, Lian Sahar, Mochtar Apin, Mujahidin Nurrachman, Simon Admiraal, serta Umi Dachlan. Karya-karya para seniman ini merepresentasikan beragam kecenderungan abstraksi yang berkembang lintas generasi, sekaligus memperlihatkan bagaimana gagasan formalisme terus mengalami pergeseran dan pemaknaan ulang seiring perubahan konteks zaman.

Dokumentasi Foto Pameran "Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme" di Galeri Salihara oleh Tim SpaceJakarta
Melalui pameran ini, pengunjung diajak memahami formalisme sebagai pendekatan artistik yang menempatkan unsur-unsur rupa seperti warna, garis, bidang, volume, dan ruang sebagai pusat nilai estetik. Alih-alih menekankan narasi atau representasi figuratif, karya-karya yang ditampilkan justru menunjukkan bagaimana bentuk-bentuk visual dideformasi hingga mencapai kualitas abstrak. Pada fase awal kemunculannya, abstraksi dalam seni rupa Indonesia tampil sebagai upaya pembebasan dari ikatan bentuk alam, sekaligus sebagai pencarian bahasa visual yang otonom.

Dokumentasi Foto Pameran "Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme" di Galeri Salihara oleh Tim SpaceJakarta
Menariknya, “Imba” juga menantang anggapan umum bahwa formalisme pada era 1950-an hanya berkembang di kalangan perupa Bandung. Pameran ini menunjukkan bahwa seniman-seniman yang berkarya di Yogyakarta pun turut mengeksplorasi corak serupa, meski dengan pendekatan dan sensibilitas yang berbeda. Dengan demikian, pameran ini tidak hanya berfungsi sebagai arsip visual, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis atas sejarah seni rupa Indonesia. “Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” membuka kesempatan bagi publik untuk melihat abstraksi bukan sebagai gaya yang terpisah dari konteks, melainkan sebagai proses kreatif yang hidup, dinamis, dan terus berkembang hingga hari ini.
Informasi Pameran:
Tanggal: 16 Januari - 22 Februari 2026
Lokasi: Galeri Salihara/Salihara Arts Center
Operasional:
Selasa-Minggu, 11:00-19:00 WIB
*Kunjungan terakhir pada 18:30 WIB
Ditulis oleh Noverdy R

