Di balik nama Toxic Motel, ada sosok Tomo yang membangun perjalanan seninya secara bertahap sejak 2016. Menariknya, langkah awalnya bukan dimulai dari kanvas, melainkan dari dunia digital art, khususnya glitch art. Melalui karya ilustrasi, cetak, hingga video art, ia konsisten mengeksplorasi medium digital sampai akhirnya berhasil menggelar pameran tunggal pada 2020. Setelah itu, Tomo mulai mendalami seni lukis secara manual. Ketertarikannya pada dunia gambar dan lukis sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil, lalu semakin terarah ketika ia menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV). Dari titik itulah identitas visual Toxic Motel perlahan terbentuk dan berkembang menjadi karakter yang dikenal saat ini.
Dokumentasi Foto Proses Berkarya oleh Toxic Motel (Tomo)
Gaya karya Toxic Motel lahir dari pertemuan berbagai referensi dan pengalaman kreatif yang beragam. Nuansa pop surealisme, psikedelik, lowbrow art, hingga estetika digital glitch menjadi ciri khas yang kuat dalam setiap karyanya. Pengaruh tersebut banyak berasal dari masa ketika Tomo aktif bermain musik bersama band Jollyhooks pada 2010-2016. Sampul album dan video musik dari berbagai band referensinya membuka jalan pada dunia visual yang penuh imajinasi dan eksperimentasi. Pengalaman berkegiatan di sejumlah kolektif seni seperti Frame of Mind, Spaze 23, hingga Glitch Artists Collective juga memperkaya sudut pandangnya. Tak ketinggalan, film-film karya Shuji Terayama dan Tarsem Singh menjadi sumber inspirasi penting yang membentuk selera visualnya hingga sekarang.
Dokumentasi Foto Proses Berkarya oleh Toxic Motel (Tomo)
Saat ini, Tomo tengah fokus mengembangkan sejumlah karakter surealis, termasuk Mr. Satomata, yang diproyeksikan menjadi sebuah Intellectual Property (IP) dengan berbagai kemungkinan pengembangan di masa depan. Selain itu, ia juga sedang menggarap “Motel Novel Series: Motel Kalima”, sebuah novel pendek yang dipublikasikan melalui Instagram. Cerita horor tersebut mengangkat kisah seseorang yang terjebak di sebuah penginapan misterius yang berkaitan dengan sekte dari masa lalu Indonesia. Di sela-sela proyek tersebut, Tomo juga aktif berkolaborasi dengan para seniman lain melalui MSG Collective, memperluas ruang eksplorasi kreatifnya ke berbagai bentuk karya.
Dokumentasi Foto Proses Berkarya oleh Toxic Motel (Tomo)
Ke depan, Tomo ingin terus memperluas semesta Toxic Motel agar tidak hanya dikenal sebagai identitas visual, tetapi juga berkembang menjadi IP yang kuat dan hidup di berbagai medium. Ia berkomitmen untuk terus bereksperimen, menggabungkan seni lukis dengan teknologi seperti glitch art dan video art, sekaligus menghadirkan narasi yang relevan tentang surealisme, filosofi, dan ironi kehidupan sehari-hari. Harapannya, karya-karya tersebut dapat menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk di tingkat internasional. Namun di tengah berbagai ambisi kreatif itu, Tomo tetap percaya bahwa keseimbangan hidup adalah hal yang penting, menikmati proses berkarya, membangun kolaborasi, menyeruput kopi favorit, hingga meluangkan waktu untuk berolahraga dan menikmati hidup dengan sederhana.
Narasumber: Toxic Motel (Tomo)
Ditulis oleh Noverdy R


1 comment
Dari artikel di atas, menunjukan bahwa di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Namun keseimbangan hidup adalah hal yang lebih penting dari sekedar hidup.